Agroindustri dan Pemasaran Agribisnis


Sektor pertanian merupakan sektor yang berperan penting dalam perekonomianIndonesia. Hal ini dapat diukur dari pangsa sektor pertanian dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, pengentasan kemiskinan, perolehan devisa melalui ekspor non migas, penciptaan ketahanan pangan nasional dan penciptaan kondisi yang kondusif bagi pembangunan sektor lain. Selain itu, sektor pertanian juga berperan sebagai penyedia bahan baku dan pasar yang potensial bagi sektor industri.
 
Keanekaragaman hayati berupa tanaman,hewan,dan mikroba yang tak ada tandingannya didunia selayaknya menjadi modal dasar untuk dilestarikan dan dikembangkan menjadi komoditas atau produk yang bersaing diperdagangan global serta memberi kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Selain itu kurang lebih 70% penduduk Indonesia bergerak dalam usaha pertanian. Kondisi ini merupakan alasan kuat atau pemacu (driver) serta modal kuat bagi tumbuh industri yang berbasis pertanian atau agroindustri.
 
Produktivitas hasil pertanian selalu mengalami fluktuasi, sedangkan harga hasil pertanian ditingkat prodesen cenderung mengalami peningkatan yang cukup berarti, hal ini diduga berkaitan dengan rendahnya produktivitas dari hasil pertanian. Singh dalam Sahara (2001) mengatakan bahwa fluktuasi harga yang tinggi di sektor pertanian merupakan suatu fenomena yang umum akibat ketidakstabilan (inherent instability) pada sisi penawaran.
 
Untuk menelaah atau menganalisis agar aliran barang atau jasa dari produsen menuju ke konsumen akhir dapat berjalan dengan baik, efisien, dan efektif, maka lahirlah ilmu pemasaran yang mencakup konsep-konsep dan teori-teori dasar pemasaran dan manajemen pemasaran. Pemasaran sebagai salah satu bidang ilmu merupakan kumpulan pengetahuan dan pengalaman yang disusun secara sistematis dan dapat diterima sebagai suatu kebenaran yang bersifat universal. Ilmu pemasaran memberikan analisis mengenai proses perpindahan barang atau jasa dari produsen ke tangan konsumen akhir serta fungsi-fungsi dan strategi pendukungnya.
PEMBAHASAN
AGROINDUSTRI
Agroindustri dapat diartikan dalam dua hal, yaitu pertama agroindustri adalah industri yang berbahan baku utama dari produk pertanian. Studi agroindustri pada konteks menekankan pada food processing management dalam suatu perusahaan produk olahan yang bahan baku utamanya adalah produk pertanian. Menurut FAO (Hicks, 1996), suatu industri yang menggunakan bahan baku dari pertanian dengan jumlah minimal 20% dari jumlah bahan baku yang digunakan adalah agroindustri.
 
Arti yang kedua adalah bahwa agroindustri itu diartikan sebagai suatu tahapan pembangunan sebagai kelanjutan dari pembangunan pertanian, tetapi sebelum tahapan pembangunan tersebut mencapai tahapan pembagunan. Oleh karena itu, dapat dimengerti kalau pada rencana pembangunan lima tahun (REPELITA) VI sebagai tahap awal pembangunan jangka panjang kedua (PJP-II) diarahkan sebagai peletakan dasar untuk meningkatkan sumber daya manusia, menumbuhkan sikap kemandirian dan pengembangan pertanian yang mengarahkan pada industri pertanian.
 
Secara singkat dapat disebutkan bahwa Agroindustri adalah suatu industri yang mentransformasikan hasil pertanian (dalam arti luas) menjadi produk industri dalam rangka meningkatkan nilai tambahnya; dengan demikian merupakan suatu sistem terintegrasi yang melibatkan sumberdaya hasil pertanian, manusia, ilmu dan teknologi, uang, dan informasi.
 
Ruang lingkup agroindustri meliputi kegiatan Perencanaan, Perancangan, Pelaksanaan dan Pengorganisasian, Pengendalian dan Pengembangan yang mengimplementasikan kemampuan teknologi manajemen dan lingkungan.
Beberapa ciri dari agroindustri, yaitu pertama produktivitas dan keuntungan dapat dipertahankan atau ditingkatkan dalam waktu yang relatif lama sehingga memenuhi kebutuhan manusia pada masa sekarang atau masa mendatang. Kedua, sumber daya alam khususnya sumber daya pertanian yang menghasilkan bahan baku agroindustri dapat dipelihara dengan baik dan bahkan terus ditingkatkan karena berkelanjutan kerajinan tersebut sangat tergantung dari tersedianya bahan baku. Ketiga, dampak negatif dari adanya pemanfatan sumber daya alam dan adanya kerajinan dapat diminimalkan.
 
Dari pandangan para pakar sosial ekonomi,agroindustri (pengolahan hasil pertanian) merupakan bagian dari lima subsistem agribisnis yang disepakati, yaitu subsistem penyediaan sarana produksi dan peralatan. usaha tani, pengolahan hasil, pemasaran, sarana dan pembinaan. agroindustri dengan demikian mencakup Industri Pengolahan Hasil Pertanian (IPHP), Industri Peralatan Dan Mesin Pertanian (IPMP) dan Industri Jasa Sektor Pertanian (IJSP).
 
Industri Hasil Pengolahan Hasil Pertanian (IPHP) dapat dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut :
1. IPHP Tanaman Pangan, termasuk di dalamnya adalah bahan pangan kaya karbohidrat, palawija dan tanaman hortikultura.
2. IPHP Tanaman Perkebunan, meliputi tebu, kopi, teh, karet, kelapa, kelapa sawit, tembakau, cengkeh, kakao, vanili, kayu manis dan lain-lain.
3. IPHP Tanaman Hasil Hutan, mencakup produk kayu olahan dan non kayu seperti damar, rotan, tengkawang dan hasil ikutan lainnya.
4. IPHP Perikanan, meliputi pengolahan dan penyimpanan ikan dan hasil laut segar, pengalengan dan pengolahan, serta hasil samping ikan dan laut.
5. IPHP Peternakan, mencakup pengolahan daging segar, susu, kulit, dan hasil samping lainnya.
 
Industri Peralatan dan Mesin Pertanian (IPMP) dibagi menjadi dua kegiatan sebagai berikut :
1. IPMP Budidaya Pertanian, yang mencakup alat dan mesin pengolahan lahan (cangkul, bajak, traktor dan lain sebagainya).
2. IPMP Pengolahan, yang meliputi alat dan mesin pengolahan berbagai komoditas pertanian, misalnya mesin perontok gabah, mesin penggilingan padi, mesin pengering dan lain sebagainya.
Industri Jasa Sektor Pertanian (IJSP) dibagi menjadi tiga kegiatan sebagai berikut :
1. IJSP Perdagangan, yang mencakup kegiatan pengangkutan, pengemasan serta penyimpanan baik bahan baku maupun produk hasil industri pengolahan pertanian.
2. IJSP Konsultasi, meliputi kegiatan perencanaan, pengelolaan, pengawasan mutu serta evaluasi dan penilaian proyek.
3. IJSP Komunikasi, menyangkut teknologi perangkat lunak yang melibatkan penggunaan komputer serta alat komunikasi modern lainya.
 
Untuk dapat terus mendorong kemajuan agroindustri di Indonesia antara lain diperlukan :
1. Kebijakan-kebijakan serta insentif yang mendukung pengembangan agroindustri.
2. Langkah-langkah yang praktis dan nyata dalam memberdayakan para petani, penerapan teknologi tepat guna serta kemampuan untuk memcahkan masalah-masalah yang dihadapi.
3. Perhatian yang lebih besar pada penelitian dan pembangunan teknologi pascapanen yang tepat serta pengalihan teknologi tersebut kepada sasaran pengguna.
4. Alur informasi yang terbuka dan memadai.
5. Kerjasama dan sinergitas antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, petani dan industri.
 
Pembangunan dan pengembangan agroindustri secara tepat dengan dukungan sumberdaya lain dan menjadi strategi arah kebijakan pemerintah diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan negara, berdasarkan tolok ukur sebagai berikut :
1. Menghasilkan produk agroindustri yang berdaya saing dan memiliki nilai tambah dengan ciri-ciri berkualitas tinggi.
2. Meningkatkan perolehan devisa dan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
3. Menyediakan lapangan kerja yang sangat diperlukan dalam mengatasi ledakan penggangguran.
4. Meningkatkan kesejahteraan para pelaku agroindustri baik di kegiatan hulu, utama maupun hilir khususnya petani, perkebunan, peternakan, perikanan dan nelayan.
5. Memelihara mutu dan daya dukung lingkungan sehingga pembangunan agroindustri dapat berlangsung secara berkelanjutan.
6. Mengarahkan kebijakan ekonomi makro untuk memihak kepada sektor pemasok agroindustri.
 
Berdasarkan pengertian serta lingkup agroindustri diatas, serta latarbelakang sosial ekonomi dan geogratis Indonesia, agroindustri dapat diharapkan mnjadi subtraktor industri yang strategis. Pengembangan agroindustri dihrapkanterjadi peningkatan nilai tambah hasil pertanian yang secara komparatif Indonesia merupakan penghasil utama komoditas pertanian penting.
 
PEMASARAN AGRIBISNIS
 
Salah satu kesalahpahaman yang sering dilakukan terhadap pemasaran dalam perusahaan agribisnis adalah pembatasannya pada fungsi penjualan saja, padahal dalam kenyataannya, pemasaran di dalam suatu perusahaan meliputi berbagai aspek keputusan dan kegiatan yang ditujukan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan guna menghasilkan laba. Manajemen pemasaran bersangkut-paut dengan pengelolaan keseluruhan proses ini.
 
Keberhasilan secara dini dalam agribisnis biasanya dapat dicapai karena agribisnis tersebut mampu mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan pelanggan. Karena kebutuhan pelanggan terus berubah, maka program pemasaran juga harus selalu diubah sesuai kondisinya.
 
KOMPONEN-KOMPONEN DARI RENCANA PEMASARAN STRATEGIK
 
Rencana pemasaran strategik memadukan semua kegiatan dan sumber daya bisnis secara logis guna memenuhi kebutuhan pelanggan dan menghasilkan laba. Rencana tersebut terdiri dari lima jenis keputusan pemasaran yang harus saling melengkapi. Bidang-bidang keputusan ini sering disebut sebagai bauran pemasaran atau marketing mix.
– Keputusan Pasar yang Menyeluruh
• Penelitian Pasar
Penelitian pasar terutama bermanfaat untuk memahami kebutuhan dan daya-beli pelanggan. Penelitian pasar dapat didasarkan pada teknik statistik yang rumit, tetapi bisa juga hanya dengan mengadakan wawancara dan pengamatan secara informal. Akan tetapi yang namanya penelitian itu harus menghasilkan informasi yang obyektif dan analistis untuk digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan pasar.
 
• Segmentasi Pasar
Segmentasi Pasar mengelompokkan pelanggan ke dalam segmen-segmen atau kategori berdasarkan karakteristik yang bersesuaian. Dengan menyadari karakteristik umum, kebutuhan, dan motif pe,belian yang lazim terdapat pada setiap segmen khusus di seluruh pasar, agribisnis dapat merancang strategi khusus pemasaran yang dapat memikat segmen khusus yang akan dilayani
 
– Keputusan mengenai Harga
• Penetapan Harga berdasarkan Biaya
Penetapan harga berdasarkan biaya atau penetapan harga yang lebih besardari biaya (cost-plus), adalah cara penetapan biaya yang sederhana, yaitu hanya dengan menambahkan marjin tetap kepada biaya dasar masing-masing produk atau jasa..
 
• Penetapan Harga berdasarkan ROI
Penetapan harga berdasarkan ROI (pengembalian atas investasi) mirip dengan penetapan harga berdasarkan biaya plus. Metode ini dimulai dengan penetapan biaya produk yang dilanjutkan dengan penambahan suatu jumlah yang memadai untuk menghasilkan ROI yang telah ditetapkan.
 
• Penetapan Harga Bersaing
Penetapan harga bersaing menekankan sisi lain dari harga. Sementara metode penetapan harga berdasarkan biaya dan ROI cenderung mengabaikan kondisi pasar, metode penetapan harga bersaing pada hakikatnya mendasarkan harga pada harga pesaing. Artinya, harga produk perusahaan mengikuti harga rata-rata yang berlaku di pasar.
 
• Penetapan Harga berdasarkan KTO
Penetapan harga berdasarkan KTO (kontribusi terhadap overhead) merupakan suatu metode yang bertujuan mendorong penjualan ekstra dengan menjual produk tambahan yang melebihi jumlah proyeksi penjualan, dengan harga sedikit diatas tambahan.
 
• Penetapan Harga Penetrasi
Strategi penetapan pasar penetrasi menawarkan produk dengan harga lebih rendah untk membuka pasar seluas mungkin dan “penerimaan” konsumen yang sedemikian cepat atas produk yang bersangkutan.
 
• Perjenjangan Pasar (skimming the market)
merupakan kebalikan dari penetapan harga penetrasi. Metode penjenjangan memperkenalkan produk dengan harga tinggi untuk para pelanggan mewah. Kemudian setelah pasar relatif sempit itu menjadi jenuh, harga diturunkan secara bertahap.
 
• Daya-Serap Pasar Penetapan harga berdasarkan daya-serap pasar
merupakan metode lain untuk menentukan harga produk dan jasa yang sangat unik.Metode ini seringkali digunakan dalam menetapkan harga jasa yang sangat terspesialisasi dan bervariasi pada setiap pekerjaan, dimana pekerjaan dirundingkan secara terpisah dan komunikasi antar pelanggan tidak terlalu lancar.
 
• Potongan Harga Potongan harga atau diskon
memberikan pelanggan pengurangan dari harga yang diumumkan atau dari daftar harga karena alasan tertentu. Potongan harga berdasarkan volume pembelian seringkali diberikan pada agribisnis guna mendorong pembelian dalam jumlah besar yang akan meningkatkan volume penjualan dan menurunkan biaya per unit.
 
• Penetapan Harga Merugi
Penetapan Harga Merugi (loss-leader princing) dilakukan dengan menawarkan satu atau beberapa produk dalam bauran produk dengan harga yang diturunkan untuk jangka waktu terbatas. Tujuannya adalah untuk mendorong penyerapan produk tertentu dalam jangka panjang.
 
• Penetapan Harga Psikologis
Penetapan Harga Psikologis menghasilkan harga yang kelihatannya lebih memuaskan karena seakan-akan cukup rendah, seperti 99 sen, seakan-akan lebih murah ketimbang 1 dollar.
 
• Penetapan Harga bergengsi
Penetapan harga bergengsi, di pihak lain, memberikan daya tarik dari segi citra mutu dan citra elite. Banyak orang berkeyakinan kuat bahwa harga yang tinggi selalu mencerminkan mutu yang tinggi. Penetapan harga bergengsi sangat banyak digunakan dalam agribisnis.
 
Salah satu contoh agroindustri dan pemasaran agribisnis,yaitu:
Sejarah Perusahaan
Pada akhir-akhir ini, makanan tradisional sedikit demi sedikit telah tergeser seiring dengan banyaknya makanan modern yang masuk ke Indonesia.Salah satunya adalah “getuk pisang” khas kediri. Keadaan ini membuka sebuah peluang usaha bagi setiap orang untuk mengembangkan getuk pisang. Bpk.Kaswan, warga kediri memanfaatkan peluang ini untuk memulai usaha membuat getuk pisang pada tahun 1999, dengan dibantu beberapa karyawannya diantaranya: M. Nur Cholis dan M.Nur Hasyim. Beliau mampu mengembangkan usahanya hingga saat ini.
 
Bahan-bahan Pembuatan Getuk Pisang
• Pisang Raja Nangka
• Gula
• Garam secukupnya
• Air secukupnya
 
Alat-alat Pembuatan Getuk Pisang
• Dandang
• Lumpang
• Daun Pisang
• Tusukan
 
Proses Pembuatan Getuk Pisang
 Bersihkan pisang raja nangka lalu kupas
 Cuci bersih hasil kupasan agar getahnya hilang
 Kukus selama 7 jam hingga warna berubah menjadi kecoklatan
 Masukkan pisang kedalam tumbukkan, tambahkan gula, garam, dan air secukupnya. Tumbuk sampai halus dan menjadi adonan
 Bungkus adonan pisang tersebut sesuai dengan takaran yang diinginkan
 Getuk pisang siap dijual.
 
Pemasaran
Usaha getuk pisang Bpk. Kaswan telah dipasarkan ke beberapa daerah diantaranya : Jombang, Kediri, Nganjuk, dan Mojokerto.
 
Produksi
Dalam keadaan normal 1 hari Bpk. Kaswan dapat menghabiskan 13 tandan pisang raja nangka dan menghasilkan 400 biji getuk pisang yang siap dijual.
 
Keuangan
Keuntungan yang diperoleh dalam 1 hari Rp. 200.000,- dengan perincian :
Harga perbiji : Rp. 1.500,-
Keuntungan perbiji : Rp. 500,-
Jumlah biji dalam 1 hari : 400 buah
Keuntungan per hari : Rp. 500,- x 400 = Rp. 200.000,-
 
Tenaga Kerja
Dalam menjalankan usahanya Bpk. Kaswan dibantu sekitar 15 orang karyawan yang tersebar dibeberapa daerah.
 
Masalah yang dihadapi Perusahaan
 Masalah Intern :Menurunnya omzet penjualan
 Masalah Ekstern : Sulitnya mendapatkan pisang raja nangka sebagai bahan baku getuk.
 
Sebab Masalah
 Tenaga kerja yang kurang professional
 Keuangan mengalami permasalahan
 Promosi penjualan kurang efektif
 
Akibat Masalah
Menurunnya pendapatan atau keuntungan
 
Langkah Pemecahan Masalah
 Berusaha menanam pisang raja nangka sendiri
 Melatih karyawan sesuai dengan bidangnya
 Mempromosikan produk usaha dengan memberi diskon dan memasang spanduk maupun brosur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s