Agro input Agribisnis dan teknologi pertanian


Pisang sebagai tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) merupakan slah satu bua sumber vitamin, mineral dan karbohidrat.

Di Indonesia pisang yang ditanam baik dalam skala rumah tangga ataupun kebun pemeliharaannya kurang intensif. Sehingga, produksi pisang Indonesia rendah, dan tidak mampu bersaing di pasar internasional. Untuk itu PT. NATURAL NUSANTARA merasa terpanggil untuk membantu petani meningkatkan produksi secara kuantitas, kualitas dan kelestarian (Aspek K-3).

Hampir di setiap tempat dapat dengan mudah ditemukan tanaman pisang. Pusat produksi pisang di Jawa Barat adalah Cianjur, Sukabumi dan daerah sekitar Cirebon. Tidak diketahui dengan pasti berapa luas perkebunan pisang di Indonesia. Walaupun demikian Indonesia termasuk salah satu negara tropis yang memasok pisang segar/kering ke Jepang, Hongkong, Cina, Singapura, Arab, Australia, Negeri Belanda, Amerika Serikat dan Perancis. Nilai ekspor tertinggi pada tahun 1997 adalah ke Cina.

Permintaan pisang dunia memang sangat besar terutama jenis pisang Cavendish yang meliputi 80% dari permintaan total dunia.

Selain berpeluang dalam ekspor pisang utuh, saat ini ekspor pure pisang juga memberikan peluang yang baik. Pure pisang biasanya dibuat dari pisang Cavendish dengan kadar gula 21-26 % atau dari pisang lainnya dengan kadar gula < 21%.

 

PEMBAHASAN

TEKNOLOGI BUDIDAYA PISANG
I. Teknologi budidaya Pisang dengan tanaman sela sayuran

Penyiapan lahan

•Lahan dipilih dari tanah yang subur dan sarang. Membuat sistem drainase yang baik agar tidak terjadi genangan air pada lahan pertanaman pisang.
•Persiapan lahan dapat dengan menggunkan herbisida, untuk membersihkan rumput-rumput yang tidak diinginkan.
•Tanah diolah menggunakan bajak atau cangkul, dibersihkan dari rumput dan sisa-sisa tanaman.
•Dibuat lubang tanam : ukuran 50 cm x 50 cm x 40 cm dengan jarak tanam 4 m x 4 m, lubang dibiarkan 2 minggu.
•Dipisahkan antara tanah bagian atas (kedalaman 20 cm) dan tanah bagian bawah (kedalaman 20 cm) 2.
•Bibit pisang yang dipergunakan adalah anakan sedang (medium sacker), berupa tunas pisang yang telah berdaun mekar sehelai dengan tinggi 101 cm – 105 cm.
•Penanaman pisang dilakukan menjelang musim hujan.
•Pada tiap lubang hanya ditanam satu bibit pisang.
•Jarak tanam pisang 4 m x 4 m (4 m dalam barisan dan 4 m antar barisan). Jarak antar baris dimanfaatkan untuk penanaman tanaman sela berupa kacang panjang dan atau kacang hijau. •Menjelang tanam pisang, tanah bagian tas dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 10 – 20 kg, kemudian dimasukkan kedalam lubang tanam.
•Tanah bagian bawah tetap dibiarkan di atas, untuk digunakan sebagai pembumbun.
•Lubang tanam dibiarkan tertutup selama 2 – 3 hari.
•Pada saat tanam, cangkul lubang dengan ukuran lebih besar dari bibit, kemudian masukkan bibit kedalam lubang tanam dengan posisi tegak. Padatkan tanah agar tanaman dapat berdiri kokoh.
•Tutup tanah sekitar tanaman dengan mulsa.

II. Teknologi Pengolahan Hasil Pisang

SALE PISANG

Alat :
Alat pengering sederhana dengan sumber bahan bakar kompor. Terdiri dari lemari pengering dari kayu dan seng yang dindingnya dibalut dengan isolator, berisi rak-rak pengering sebagai tempat melakukan irisan pisang yang akan dikeringkan. Lemari pengering dilengkapi dengan thermocouple untuk mengendalikan suhu udara pengering. Bahan : Pisang yang digunakan sebagai sale yaitu tua, lewat matang dan tidak ada bagian yang rusak.

Cara Pembuatan :
•Buah dikupas dari kulitnya, kulit ari yang berwarna putih dibuang, karena membuat penampilan sale kurang menarik (keputih-putihan).
Kulit ari dikerok tipis-tipis menggunakan bilah bambu. Pengerokan dilakukan secara hati-hati agar daging tidak terbuang terlalu banyak.

•Buah yang telah bersih dari kulit arinya kemudian dibelah secara memanjang. Irisan-irisan buah, kemudian diletakkan secara berjajar di atas rak-rak pengering.

•Hidupkan kompor sampai suhu thermocouple menunjukkan angka 70oC,

•Lalu masukkan rak-rak pengering dengan irisan-irisan pisang yang telah tersusun di atasnya ke dalam lemari pengering. Tutup pintu lemari pengering. Jaga suhu tetap pada suhu 60oC-65oC selama 17 jam, dengan cara mengatur besar kecilnya api kompor. Pengeringan dianggap selesai bila sale sudah tidak lengket bila dipegang dengan tangan.

•Sale yang bentuknya tidak teratur kemudian disusun 2 lapis di atas alas papan kayu, dengan bagian tengah pisang (hatinya) saling berimpitan. Panjang susunan pisang ini dibuat sesuai dengan panjang jari pisang yang disusun, sedangkan lebarnya disesuaikan dengan ukuran alas papan kayu yang digunakan.

•Sususnan sale ini kemudian ditekan dengan alat pengepres sehingga tebalnya menjadi sekitar 0,5 cm. Kemudian alat pengepres dilepas, dan sale yang telah padat ini diiris tipis dengan ukuran sesuai permintaan. Ukuran yang bisa digunakan adalah panjang 15 cm dan lebar 2,5 cm.

•Irisan sale ini kemudian dibungkus dengan plastik tipis, selanjutnya dikemas dan dipacking sesuai dengan yang diinginkan. Hasil sale harus disimpan ditempat yang kering dan tidak terkena sinar matahari.

MESIN/ ALAT YANG DIPERGUNAKAN UNTUK BERTANI PISANG (ALSIN HOLTIKULTURA)
Alat/Mesin Budidaya
 Shading Net ( Jaring Pelindung)
 Perangkap serangga/OPT
 Green / Screen House (Tempat/ Rumah Kaca / Transparant)
 Selenoid Pump
 Fogger (alat pengabut / penyiram air / pengasapan)
 Alat pembuat kompos / alsin organic
 Cultivator (alat penanaman)
 Boiler
 Steamer

Alat/Mesin Panen /Pasca Panen

 Stagger
 Alat pemetik buah
 Alat sortasi
 Timbangan
 Mesin pengering
 Cold storage
 Wrapping
 Sealer
 Cool box

Alat / Mesin Pengolahan
 Vacuum Frying
 Alat / mesin perajang : Pisang
 Pulper / Filter Press
 Blender Pengolahan Hasil
 Chopper

Perkebunan pisang yang permanen (diusahakan terus menerus) dengan mudah dapat ditemukan di Meksiko, Jamaika, Amerika Tengah, Panama, Kolombia, Ekuador dan Filipina. Di negara tersebut, budidaya pisang sudah merupakan suatu industri yang didukung oleh kultur teknis yang prima dan stasiun pengepakan yang modern dan pengepakan yang memenuhi standard internasional.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pisang memang komoditas perdagangan yang sangat tidak mungkin diabaikan. Permintaan pisang dunia memang sangat besar terutama jenis pisang Cavendish yang meliputi 80% dari permintaan total dunia. Selain berpeluang dalam ekspor pisang utuh, saat ini ekspor pure pisang juga memberikan peluang yang baik. Pure pisang biasanya dibuat dari pisang cavendish dengan kadar gula 21-26 % atau dari pisang lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s